Monday, 14 May 2012

Hujan Baru di Dahan Teduh


Telah ku ukur panjang cuaca, antara gerimis senja dan kabut lembah
Telah ku hitung juga warna hutan basah, antara kemarau lalu dan hujan tercurah
Bila ulang tahunmu adalah karunia panjang usia, maka anak-anak kita adalah berkah Tuhan tak terhingga...

Telah kuukur panjang cuaca, antara hari ini dan tahun-tahun nanti
Selamat ulang tahun Ibu anak-anakku
Jadilah selalu rinai gerimis hati, bagi segala musim di hujan-hujan teduh


Cibubur, 09 Mei 2012

Saturday, 8 October 2011

pelabuhan terakhir..

bila biduk hidupku adalah pengalaman
kan kulayari hatimu yang perawan
jika pernikahan ini samudra luas kehidupan
cinta birumu peta pasti arah tujuan
dalam badai sunyi sepi perjalanan
dirimulah lentara terakhir hangat pelabuhan
kan kutambatkan sauh letih perjalanan ini
di dermagamu terakhir sekeping hati
dan cintalah yang menuntunku pulang dan kembali
kerumah kasihmu setelah prahara kini berlalu pergi

Cibubur , June 2011

Monday, 8 August 2011

Kangen

kangen adalah kata ketika warna hati menemukan gerimis pagi, di kabut tipis dini hari luka hati mengambang lirih tak terperih, lalu kau bertanya pada malam betulkah sunyi itu pedih ?

Cibubur  31 May 2011

Monday, 27 June 2011

tentang pernikahan...

bila penantian panjangku kering kemarau cuaca
engkaulah hujan pagi di dahan-dahan basah
aku menunggu tanda musim di daun-daun dini hari
engkaulah gerimis teduh hadir sejak dulu kunanti

bila pernikahan ini buah ranum kesabaran
maka biarkan sebaris doa syahdu hati kupanjatkan
Tuhanku, jadikan kami sepasang gemintang
agar pernikahan kami panjang lapang dan terang...

 Cibubur, 27 June 2011

Thursday, 9 June 2011

selalu kuterpesona pada pagi, dibangunkannya daun-daun subuh, dirapihkan pula lelap tidur matahari, ditegur sapa embun embun yang rindu pada cuaca,..dan terus kuterpesona pada pagi, yang ajarkanku satu kata sederhana..Pemulai hari

Monday, 30 May 2011

Paragraf Gunung




aku membaca gunung, dengan daun-daun yang menjadi paragraf, di antara titik koma bebatuan senja, rima dan bahasa purba di alur gurat kabut lembah, kembali aku belajar lagi, sekeping kata untuk tetap jadi manusia...

Thursday, 22 July 2010

Filsafat Bambu 2



Hanya hati yang jernih
Mengerti selalu
falsafah bambu
Kelembutan melukiskan kekuatan
Kokoh dalam gemuruh badai selatan

Hanya hati yang belajar
bisa tahu falsafah bambu
Bila teguh sepanjang waktu
Penuh tenaga dalam cuaca
Takkan terpatah dalam prahara

Hanya hati yang belajar
Bisa tahu bahasa bambu
Diam bertumbuh
Kuat mengakar

Cibubur, Jan 22 2004

Filsafat Bambu

Jika angin musim jadi kelana
Rumpun bambu jadi pertapa
 
Jika angin musim kembali pulang
Rumpun bambu menjadi gerbang

Jika angin musim palang jendela
Rumpun bambu palang rumah

Kearifan hidup bisa tumbuh di mana-mana
Seperti bambu dalam badai musim
Belajar teguh sepanjang waktu
Belajar kukuh sepanjang laku


Cibubur, January 22, 2004

Tuesday, 6 July 2010

Bila Kenangan Adalah Permata...

(-setelah 23 tahun hari-hari berlalu....)

Bila kenangan adalah permata, Kemana kau kan menyimpannya
Akankah kau kunci dia di peti baja,tersimpan rapi di balut debu serta jelaga
Dan akhirnya tersaput oleh hilang serta lupa
Bila kenangan adalah permata,di angka berapa nilai yang kau berikan kepadanya
Akankah semua angka menjadi batas semesta, ataukah akan menjadi sesuatu yang tak terduga ?

Bila kenangan adalah udara,dengan cara apakah kau berterimakasih padanya
Karena dirimu hari ini adalah peta serta jejak langkah beribu masa
Tanpa kenangan ,hari ini takkan bermana apa-apa, tanpa kenangan kemana masa depan kan kau bawa, Karena kenangan laksana batu-batu jalan lama, karenanya engkau bisa punya cerita
Tentang hidup hari ini yang tak selalu lurus terbuka,tentang hari ini yang tak selalu punya akhir cerita bahagia, tentang hari ini yang kadang tak pernah kau sangka, bahwa hidup hari ini begitu berharga,karena engkau punya sekeping kenangan , tentang seorang sahabat dari sebuah masa
Tentang cita-cita masa muda yang panas bagai bara, tentang sebuah hati yang kini mungkin telah kau lupa, tentang kenaifan dulu kala yang tentu tak bisa lagi kau ubah,

bila kenangan adalah permata, jadikan dia terang cahaya di sudut gelap lupa kita
Berbinarlah ia ketika gelap hati jadi nelangsa, bercahayalah ia bila kabut hidup hari ini menutupi jalan dan peta-peta langkah
Maka bila kenangan adalah permata, diciptakan Tuhan hari ini buat kita semua kembali berkisah...

Bahwa sahabat adalah segala mutu manikam permata
Tak ada nilai serta angka yang mampu kau terah padanya
Maka berbahagialah kita yang berkumpul hari ini demi sebuah kenangan permata
Maka bila kenangan adalah permata
Kemana engkau kan menyimpannya...

Ditulis buat Teman-Teman di Reuni Alumni 508 Sungailiat Bangka Angkatan 87
Di Kawasan Wisata Pulau Situ Gintung Ciputat, 27 Juni 2010

Friday, 18 June 2010

Sekeping Semeru di Ruang Negri...


jika gunung-gunung adalah rumahku
maka belantaralah beranda terbuka
terpekur diriku di antara mega rimba
dan langit tiada tara jadi atap semesta raya...

bila lembah-lembah adalah ruang tamuku
maka cahaya mentari serta kabut pagi
jadi figura dinding warna tanpa jendela
dan bersimpuh diriku di antara ilalang dan perdu ruang keluarga
terhampar stepa serta karpet padang sabana

bila gunung-gunung adalah Semeru
maka lengkaplah cinta Tuhan bagi tumpah darah
di atas sekeping tanah negri paling syaduh
hanya Tuhanlah yang paling tahu
ruang gunung ruang negri
terhampar tak terperi...

Cibubur, sekembali dari pendakian Semeru, 28 Mei 2010

Tuesday, 26 January 2010

Di gerimis itu , kenangan mengalir menjauh...

Di gerimis sore itu, kenangan mengalir menjauh, menempuh batas tahun-tahun yang berlalu dan sesekali hati ini kangen pada haru biru serta canda dunia muda yang pernah kujejaki beribu hari . Di batas-batas kangen dan kenangan . Di balik debu kertas-kertas menguning beku, dan inilah sebuah guratan yang mengental atas nama masa lalu di batas-batas rona waktu. Aku bertandang lagi ke almamater tua ini seperti kembara yang ingin mencari sekeping hatinya di waktu-waktu lama...
***
Gedung almamater ini tak banyak berubah setelah hampir 22 tahun berlalu sejak kami lulus tahun1987. Hanya warna cat nya yang berganti warna. Dulu warnanya hanya kuning memutih. Sekolah ini pada tahun 1984 awalnya bernama SMA Negri 508 Sungailiat Bangka. Kami yang masuk tahun 1984 adalah angkatan ke tujuh. Sekolah ini berdiri tahun 1977-78. hari ini sekolah tua ini telah berumur 30 tahun. Sebuah usia yang matang dan dewasa. Setua dua pohon seru' yang tumbuh di halaman samping. Menua. Menyimpan banyak catatan. Lirih. Rindu.
***
Di tahun-tahun itu, sekolah ini adalah dambaan semua murid pintar dengan NEM tinggi. Semua orang berlomba ingin masuk ke sekolah ini. Sekolah di PEMDA.Sebuah uacapan yang membanggakan. Semua fasilitas yang didambakan semua murid ada di sini. Drumband, lab bahasa Inggris, lab kimia. Semua ada di sini. Di SMA Negri 508.Yang pada hari -hari itu, semua hal itu adalah sebuah kemewahan yang tak terbayangkan. Sekolah swasta lain tentu saja tak mungkin memiliki kemampuan untuk fasilitas mewah ini.
*
Sore hari itu, hujan bulan july turun perlahan. Kota usai gerimis muda, udara bukit Betung murung . Sore yang mendung . Turun di atasnya. Sisa-sisa gerimis menetes di pohon -pohon tua. Menyendiri. Dingin dan sunyi. Aku melangkah kesamping sekolah , nampak beberapa anak muda tengah mempersiapkan agenda acara . Tentu tak ada sapa . Mereka tak mengenalku, sang kelana yang kembali pulang ke almamater lamanya. Sambil memperbaiki tenda untuk acara peresmian acara besok. Terpampang iklan sebuah perusahaan motor. Sponsor utama. Acara sedang di persiapkan di lantai lapangan basket. Di sisi lapangan ini berdiri sebatang pohon Seru' tua. Daun-daunya yang berwarna batu, semerbak putiknya kecilnya yang muda, masih juga menyimpan aroma 22 tahun lalu. Hujan sore mengusap-ngusap dahan-dahannya. hanya dia yang menyapaku dari masa lalu. Sahabat yang sendiri.Menua. Rentah.
***
Sekolah yang berdiri sejak tahun 1978 ini telah mulai nampak rentah dan tua. Sementara di belakangnya gigir bukit tak pernah berubah. Bukit ini terus beku dan menunggu. Tak pernah berubah. Bukit yang setiap pagi aku sapa dari jendela kelas budaya. Memandangnya seperti mamandang teman lama. Akrab terasa. Tapi jauh dari sebuah masa.
***
Aku melangkah masuk ke dalam gedung, mencoba membenamkan diriku ke sebuah kenangan , kesebuah masa yang jauh , 21 tahun yang lalu ketika ruangan kelas, gedung ini, pohon-pohon serta rerumputan di atasnya menjadi kawan akrab beribu hari tempat kami melewati waktu remaja kami. Tak banyak yang dapat dan mampu aku kenang. Kenangan telah lama menjadi bentuk lain, foto yang menguning atau tulisan angka-angka pada album lama. Aku kembali ke tempat di mana masa remaja kami hidup dan tumbuh di gedung ini, 22 tahun yang lalu. Dua ratus lima puluh dua bulan. Tujuh ribu lima ratus enam puluh hari yang lalu.
***
Gedung-gedung serta kelas tak banyak berubah. Aku melangkah turun ke kelasku dulu. Aku mencoba masuk. Sekolah tengah libur semester. Tak ada murid-murid. Sekolah dan kelasnya lengang. Aku duduk di bangku lamaku dulu, aku tak ingat lagi apakah bangku yang kududuki ini masa bangku 22 tahun lalu, dulu bangku-bangku ini kaki -kakinya terbuat dari besi dan lebih menarik. Tapi posisinya masih kuingat, di baris paling belakang pinggir jendela. Tapi tak ada lagi aroma 22 tahun yang lalu. Interior kelas telah berganti dengan lukisan-lukisan kreatif murid-murid kelas yang baru. Anak-anak muda generasi X yang kreatif tentu. Kubayangkan 22 tahun yang lalu mereka belum lahir ketika kami duduk di kelas ini. Mungkin beberapa dari mereka adalah putra-putri teman-teman dan karib kami yang dulu. Entahlah. Tapi satu generasi telah tumbuh. Satu generasi waktu berlalu. Betapa cepat. Sungguh!
***
Sendiri saja aku duduk di kelas ini. Sunyi. Aku coba mengingat bunyi dan sorak sorai serta ribut kelas kami. Kelas yang selalu gaduh. Nakal. Urakan. Dan konyol. Tapi hanya gaung sepi dan senyap ruang kelas saja yang ku tangkap. Kelas ini telah banyak menyaksikan perubahan beratus murid yang datang dan pergi, sukses atau mungkin juga tenggelam dalam kehidupan. Kelas ini menjadi saksi bisu perjalanan hidup kami 22 tahun yang lalu. Kelas-kelas tersayang.
***
Tak gampang memang kenangan beranjak pergi. Aku kembali lagi ke kelas ini . Beragam hidup berubah dan berganti. Kami semua telah menikah ( mungkin ), punya anak dan keluarga. Tapi berapa banyak yang akan mengingat kembali kelas tua ini, sekedar kembali kepada kenangan lama, yang mungkin tak terlalu bermakna ?. Entahlah. tapi aku kangen dan rindu pada masa itu. Masa-masa yang paling kreatif dalam masa remajaku. Masa yang paling menentukan hidupku hari ini. Berpikir secara terbuka. Merdeka dari bentuk kungkungan adat-adat lama yang ingin kami dobrak bersama-sama.
***
Masa SMA adalah masa yang paling menentukan dalam setiap perkembangan hidup semua orang. Masa ketika puncak segala sesuatu membuncah, menggelegak. masa-masa pemberontakan terhadap nilai-nilai mapan, masa mencari, masa membongkar dan masa yang penuh keberanian untuk mencoba segala yang baru. Yang kadang penuh resiko kesalahan, kekeliruan. Khilaf dan kenaifan. Dan tentu saja semua kenangan tentang itu , akan menjadi sebuah harta yang berharga buat kita kembali, menyapanya lagi.
**
Kenangan adalah tapal batas bahwa dulu kita pernah menapak dan menjejakkan kaki kita di sana. Dan lukanya kini semua telah terasa lebih manis dan memberikan banyak makna baru. Hidup yang punya arti. Maka kenanglah kenangan itu. Biarkan ia jadi api yang memberikan kehangatan , walaupun jauh tapi gemeriapnya melingkari peta-peta imaji kita akan aroma hangat warna-warna muda belia. Dan kita bisa menciptakan makna baru buat anak-anak kita kini , bagi kenangan-kenangan lama itu...
***
Cibubur, July 2008

Monday, 25 January 2010

Doa Hujan...

bagai laron yang  tergugah
kangen dan rindu pada cahaya lampu

kitapun kangen dan rindu pada hujan tercurah
Terimakasih Tuhan
Atas hujan pagi hari
tertabur di atas rima, sajak dan seribu puisi

Cibubur, january 08, 2010

Zat Tanpa Tiada...

membaca rinai dan butir hujan
bagai mengeja karunia dan berkah Tuhan
gerimis pada tanah
biji sesawi di awal hari
tak mampulah diri
melafalkan Zat Yang Tak Tertandingi

Cibubur,  January 12, 2010

Monday, 28 April 2008

Kanvas Kasih dan Figura Cinta Tuhan, Bunda


buat Euisry
yang haru rindu biru pada bunda yang jauh

membaca bunda membaca tak terkata
melukis bunda melukis tak terwarna
menerka bunda menerka tak terhingga

rindu kata
rindu warna
rindu tak terkira
karena Tuhan menggambar cinta
lewat kangen kita pada Bunda



Jakarta, 28 April 2008

Wednesday, 23 April 2008

Buku Waktu

-Buat Pak Kirman, Guruku
Yang menjaga rahasia Ilmu
***
langit bisa kehilangan rinai hujan
karna sang kala yang membeku

hutanpun mungkin kehilangan daun serta perdu
karna musim tak lagi bersekutu

tapi ada yang tak bakal lekang oleh buram waktu
namanya Guru

Cibubur, 21 April 2008

Sunday, 16 March 2008

Harta Karun Abunawas

Perkenalanku pertama dengan dunia buku dimulai dengan banyak babak yang berbeda tapi menuntun menuju satu muara sungai keajaiban dunia pustaka . Keajaiban pada dunia pustaka ini telah menuntunku menuju sebuah kelana imajinasi yang tak habis-habisnya , yang akhirnya membentuk diriku , membentuk pola pikirku dan membentuk hidupku sekarang.
***
Di suatu sore kampung tua yang berhujan di ujung tahun 1978, umurku watu itu baru saja tiba pada ujung awal duia akil balik yang aneh. Menjelang usia 11 tahun aku suka sekali menyendiri. Menyembunyikan diri dari keramaian kampung dan anak-anak seusiaku. Mencari sebuah dunia imajinasi , mencari sebuah dunia untuk ku menghilang dari sebuah kesibukan permaian kampung. Menghilang dari banyak celoteh anak-anak kampung yang kadang tak bisa masuk dalam pergaulan pribadiku. Aku merasa sedang dan akan menjadi berbeda dengan mereka.

***
Suatu sore yang penuh dengan hujan, aku masuk dan naik ke rumah kakekku. Masuk kesebuah ruangan kamar tidur yang kosong dan telah menjadi gudang barang rongsokan. Dulu kamar ini adalah kamar dimana aku dilahirkan tahun 1967.Di ruang kamar itu terbujur kaku sebuah tangga kayu tua yang menuntun ke atas loteng tua rumah kakekku, yang sangat jarang di naiki dan sangat jarang dijadikan tempat bermain. Debu dan sarang laba-laba menjadi penghuni terlama dan abadi di loteng tua itu.
***
Kesanalah aku naik sore itu, menemukan sesuatu yang awalnya tak bisa kubayangkan. Awalnya
sore itu aku naik ke loteng untuk mencari potongan kulit dari jok bekas mobil yang rencananya ingin aku jadikan kulit buat ketapelku . Karena aku perkirakan bahwa jok bekas mobil kakek yang sudah tua dulu mungkin disimpan atau dionggokkan di atas loteng tua dan berdebu itu.
***
Mencari dalam ketemaraman tanpa lampu di sore yang berhujan, dengan sisa temaram cahaya sore yang hampir selesai kudapati seonggok buku-buku tua dalam jumah yang cukup banyak dan sudah penuh dengan debu dan telah menjadi timbunan rumah raya di atasnya, yang dulu menjadi koleksi kakekku, Abunawas.
***
Kakekku di panggil oleh orang kampung sebagai Abunawas mengikuti nama cerita seorang rakyat jelata dari cerita 1000 Satu Malam yang memiliki akal cerdik dan tak bisa terkalahkan dalam berdebat ataupun adu otak dan adu akal.
***
Kakekku seorang yang buta huruf dan tak pernah mengenal bangku sekolah. Tapi kakekku adalah seorang otodidak sejati yang dalam konsep modern mestinya diberikan gelar honoris causa atau setingkat professor.
***
Phan Bong Sin, begitulah nama Tionghoa kakekku. Orang kampung mahfum dan tahu kalau berdebat atau adu akal dengan Phan Bong Sin pasti tak ada yang menang ataupun urusan debat kusir soal apa saja. Akhirnya Abunawas menjadi nama alias kakekku dari pihak ayah.
***
Buku dan Koran ,juga majalah sejak dulu menjadi lahapan rutin kakekku. Tak banyak orang kampung yang bisa meniru ataupun bisa memiliki kemampuan keuangan untuk berlangganan koran, majalah apalagi membeli buku seperti keluarga Phan Bong Sin. Kebetulan usaha pabrik bata genteng beliau menjadi suatu bisnis yang akhirnya berpuluh tahun menjadi topangan hayat hidup banyak orang di kampung Jalan Laut dan juga kampung-kampung sekitarnya. Beberapa generasi telah mengabdi dan mennggantungkan hidup keluarga mereka di pabrik bata genteng Sinar Laut ini. Yang pada akhir dekade 1990-an akhirnya pelan-pelan memudar dan hilangdari duia bisnis kampung. Selama-lamanya.
***
Kembali lagi ke dunia baru yang kutemukan, buku-buku yang akhirnya kutemukan dengan tanpa sengaja itu akhirnya menjadi pintu pembuka bagi masa kecilku untuk berkelana kesebuah dunia Kang Auw Tiongkok kuno. Sam Kok dan Para Pendekar Pulau Es. Pedang Harum, Pendekar Pengemis dan Pendekar Cengeng.
***
Sejak itulah aku mulai tenggelam dalam sebuah dunia yang mengasyikkan . Menjelajah dunia aneh para pendekar. Membaca berhari-hari dari kumpulan buku-buku serial silat Tionghoa yang terkadang tak punya seri lengkap lagi. Beberapa bahkan hanya satu dua seri setelah itu tamat tak punya lanjutan. Beberapa bahkan langsung hanya pada buku terakhir tanpa serial awal dan tanpa buku serial tengah. Kisahnya menjadi tak karuan. Tak memiliki runtutan jelas. Tapi ini adalah harta karun bagiku dan semua buku itu akhirnya aku bawa turun dan kujadikan salah satu pelabuhan pikiran buatku saban hari sepulang sekolah .
***
Dan hilanglah aku ditelan dan mengembara sampai ke daratan Tiongkok, ke gunung Liang Shan dan juga menjelajahi bukit-bukit tua di dataran Tiongkok yang jauh. Imajinasiku telah mengembara jauh dari tubuhku. Dari sebuah kampung yang hampir tak mengenal buku-buku. Sebuah kampung yang pada saat itu lebih tenggelam pada cara-cara untuk mencari nasi dan berjuang mencari penghidupan yang lebih layak. sehari-hari.
***
Beberapa buku adalah buku dengan format yang besar yang mencantumkan nama-nama dan lokasi dunia-dunia seberang yang bernama Peta Bumi. Sangat jarang pada jaman itu di kampungku sebuah rumah memiliki sebuah buku peta bumi. Tapi Abunawas memiliki peta bumi itu sebagai bagian dari hidup keluarganya.
***
Dari buku peta bumi tua itulah akhirnya aku tahu bahwa dunia ini begitu banyak memiliki daerah-daerah yang bernama terkesan aneh dan jarang kujumpai di usiaku pada umur-umur menjelang akhir sekolah dasar. Nama Bulgaria, Green Land, Turkistan, Bolivia adalah nama-nama yang jarang terdengar ketika kami kecil. Di buku peta bumi tua itu aku menemukan sebuah dunia baru. Yang benar-benar baru. Yang tak terbayangkan. Aku membaca Khatmandu dan juga membaca Tibet . Wow! Sebuah nama antaberanta.?
***
Buku-buku yang kutemukan di loteng tua rumah kakekku telah menjadi peta bumi buatku sejak saat itu mengembara kedunia yang beragam warna. Dunia Ajaib. Dunia Pustaka. Dan ketika Beni yang telah menginjak usia sekolah akhir SMP telah juga menjadi sumber utama buatku menemukan dunia-dunia baru dari buku-buku pinjaman sekolah SMP Katolik Maria Goretti. Di sekolah ini sebuah perpustakaan milik gereja dengan berlimpah menjadi surga bagi pencinta buku . Tapi massa itu tak banyak anak Sungailiat yang memanfaatkan surga itu.

***
Dan setiap pulang sekolah selalu-lah buku-buku baru di bawa pulang untuk di baca seminggu kemudian. Aku mulai berkenalan dengan 3 orang pengawalan raja Prancis yang setia dan berbakti dalam The Three Musketers. Lalu aku mengenal Si Bongkok dari Notredame. Aku berkenalan dengan si detektif cerdik penuh akal dan selalu menang , Sherlock Holmes dalam Anjing Setan dari Bakerrville. Dan sejak saat itu duniaku tak akan pernah sama lagi . Duniaku yang berada di tengah-tengah kampung menjadi sebuah dunia yang berubah selama-lamanya. Sebuah dunia liar , dunia imajinasi kembara. Kembara negri antaberanta.
***
Kini aku menduga mungkin kakekku tak meninggalku sebuah warisan yang bisa kujual atau bisa kugadaikan. Karena rumah, tanah dan semua warisan yang berwujud fisik tak juga kami miliki apalagi kami dari generasi cucu-cucunya. Tentu tak punya hak untukwarisan seperti itu. Tapi minimal perkenalanku pertama dengan harta karun Abunawas di loteng tua itu telah memberikanku sebuah warisan berpikir , pola imajinasi yang membentukku hari ini. Menjadikanku seseorang yang tak takut mengembara walaupun ke dunia-dunia aneh antaberanta. Sebuah warisan yang hampir tak ternilai harganya. Melebihi warisan apapun.
***
Inilah warisan yang kuanggap sebagai warisan kehidupan pertama. Sebuah warisan pusaka. Harta Karun Buku-buku Tua , Harta Karun Abunawas.
***
Cibubur, Legenda Wisata, 16 Maret 2008

Monday, 3 December 2007

Hujan Pagi

Hujan pagi di kampung lama
Seperti lukisan gerimis di buku tua
Warna warna yang tak gampang kulupa
Kini kembali menjelma
Dalam puisi dan juga pada seribu gugus rima

Hujan pagi di kampung lama
Merunduk pasrah pucuk mangga
Yang coba menerka kata-kata hujan pada tanah
Dicarinya jawab yang purba
Pada gugur rimbun pucuk asam jawa

Tiap kali gerimis rinai pada awal hari
Tak terhitung banyak bunyi sunyi yang mengendap
Sepertinya Tuhan sembunyikan petak teka-teki
Pada dahan serta daun trembesi yang lindap

Cibubur, Kini hujan November beranjak pergi, 28/11/2007

Wednesday, 10 October 2007

Pagi Cipanas, 29 May 1992

-Warna sunyi bening di matamu , Mimi
kuterahkan tiga kata di kanvasnya melati
dan hujanpun luruh di kanan dahi -

Melewati jalanan setapak berbatu, kugapai getar haru itu
kabut gunung telah bangun di kebun jagung
angin pagi memainkan rambutmu, seperti wangi kembang jambu
pada cuaca basah, tetes embun pagi, warna dahan cemara
dalam diam kamu melangkah, setenang batu kali
selamat pagi keharuan
selamat pagi rasa hati


Mentari melukis bayang di airkali
semak dan perdu, lumut dan batu
sunyi dan jauh
dan kupagut kesunyianku
benarkah hatimu pagi itu berpihak pada batinku
luruhlah segala hampa, hati yang nelangsa
kini kita berdiri di antara bayang batin daun yang terbelah

Jakarta -Harmoni, Tujuh Juli Sembilan Dua

Friday, 14 September 2007

Bagi Perempuan Yang Sama, Tiga Kali Sudah Ku Tambatkan Cinta


( Sebuah terjemahan bebas atas puisi " I have Fallen In Love ( With the same woman three Times ) " karya Benigno Aquino ditulis di penjara Manila buat Corazon Aquino istrinya. Dan Jose Mari Chan mengabadikan menjadi sebuah lagu indah )

Tiga kali sudah kutambatkan cinta
bagi perempuan yang itu juga
dalam sembilan belas tahun rentang hidupku
antara duka biru yang renyah dan suka haru nestapa

Kutambatkan hatiku kali pertama
ketika dia masih remaja
dengan penuh gelora pesona atas hidup muda belia
Semerbak kilau teduh seperti tetes embun pagi beku

Kutambatkan hatiku kali kedua
Ketika anak pertamaku lahir dari rahimnya
Di sisi hati dia hadir selalu
Hadapi badai gemuruh dialah sumber kekuatanku
Ketika ribuan bakti menanti
Bagi dunia dan negrilah tugasku kini
dan rakyat jelata harus kubela
sementara anak-anakku dalam pelukannya
Dan delapan belas tahunpun berlalu dan pergi
sampai akhirnya aku mesti terpenjara di balik terali
dialah hanya semata pelipur sedih
sumber kehangatan dan mata air berjuta harapan
dipundaknyalah kini kulimpahkan segala beban
Kutambatkan kembali hatiku kali ketiga
bagi perempuan yang itu juga
walau hancur luluh diterpa badai
kukuh hatinya tak pernah memuai

Di tengah gemuruh yang memalu membatu
Tak juga dia gontai dan luluh
tenang serta teduh selalu
Dialah putri Tuhan terkasih sungguh

* Kupersembahkan terjemahan Puisi Benigno Aquino ini buat Marselina, Ibu anak-anakku *
Cibubur, 15 September 2007
**********
Teks Asli dalam Bahasa Inggris:
I Have Fallen In Love ( With The Same Woman Three Times )
by Jose Mari Chan
I have fallen in lovewith the same woman three times;
In a day spanning 19
yearsof tearful joys..and joyful tears.

I loved her first when she was young,
enchanting and vibrant, eternally new..
she was brilliant, fragrant,and cool as the morning dew.

I fell in love with her the second time;
when first she bore her child and mine
always by my side, the source of my strength,
helping to turn the tide..

But there were candles to burn
the world was my concern;
while our home was her domain
and the people were mine
while the children were hers to maintain;

So it was in those eighteen years and a day..
’till I was detained; forced in prison to stay.
Suddenly she’s our sole support;
source of comfort,our wellspring of Hope..
on her shoulders felt the burden of Life..

I fell in love again,with the same woman the third time.
Looming from the battle,
her courage will never fade
Amidst the hardships she has remained,
undaunted and unafraid.
she is calm and composed,she is God’s lovely maid..
Sung by Jose Mari Chan

Monday, 6 August 2007

Engkaulah Pagi

engkaulah pagi
yang menembangkan kristal sunyi
keheningan rangkai melodi
simfoni tanpa bunyi
rahim subur para peri
di sanalah lahir berjuta puisi

harmoni, oktober 1989